Selasa, 04 Januari 2011

Part I. Last Day in Medan

"Besok pagi siap-siap ya, ntar di telepon"
yup, berdebar jantung ini karena baru aja terima panggilan hape dari kak Lia. Nggak lama lagi, tinggal hitungan jam semua bakal berubah. Mungkin untuk sementara, mungkin juga mengubah segalanya. Tapi yang pasti ga kan merubah hati ini untuk siapapun.
"Bang, kata bang Dian jangan lupa laporan bulanannya dihekter" kata si Al.
"Udah, dia kemari jam berapa?"
"Ga tau bang, ga ada dia bilang tadi" jawab si Al.
"Aku pulang ya bang" katany bersanding suara deru Mio hitamnya. Alfi pun pulang, shiftnya sudah habis en sekarang giliranku untuk duduk semalaman di bangku operator ini.

"Allahu akbar...Allahu akbar...."
Azan menggema ditelingaku, sekarang dah pukul 18.29. Magrib tiba dengan sendunya, selimuti kota Medan ku dengan kesejukan. Udara mulai mendingin.
"20 menit lagi dia pulang" fikirku.
Ya, waktunya si imut ku pulang kerja (heran, bibirku senyum sendiri tiap membayangkan dia). Tak terasa sudah seminggu dia bekerja. Sejak keluar dari pekerjaannya yang lama, dia terus krasak-krusuk mencari kerja. Hampir tiap hari minta di belikan harian Analisa, surat kabar favorit yang paling banyak memuat lowongan pekerjaan. Sudah banyak yang dia kirim, tapi banyak juga yang ga direspon. Sekali dapat respon, eh malah disuruh kerja di Forex yang dia ga ngerti ujung pangkalnya. Lowongan kerja kali ini aku yang dapatkan di koran Waspada, itupun tak sengaja. Staff Akademik, wah..pas banget untuk imut ku. Langsung aja dia mau, lagian tempat itu ga jauh kok. 300-an meter aja dari warnet ku. Alhamdulillah, setelah 5 hari sejak melamar kerja, dia diterima. Walau dengan penghasilan pas-pas an, kami iklas. Kami percaya kalau semua ada hikmahnya, en kami percaya suatu hari nanti semua kan baik-baik saja.

Aku mencintainya, aku juga yakin dia seperti itu juga. Dua tahun lebih kami susah senang bersama, dua tahun berpacaran trus tunangan, trus gagal. Tapi entah kenapa semua itu masih belum menyurutkan niatku untuk terus bersamanya.

waduh...sekarang harus dijemput...dah jam 7 kurang....
dari tadi si imut sms en miscall terus...ga sabaran mw liat wajahku kali ya..hahahaha2x
wuusss.... si pinky ngebut diantara mobil-mobil mengkilap...mirip sinetron silat aja, baru terbang, trus nyentuh tanah eh dah terbang lagi..nah abis membaca tulisan ini kamipun dah nyampe lagi di warnet. nyaris tak terdengar...

Berdiri disebelahku, wajahnya sendu (kangen kali ya dengan diriku). Belum lagi duduk, diangkatnya sebuah bungkusan kresek hitam dari tasnya.
"ni tadi ada yang ngasi bakso, dah ngembang kali bang"
"ya dah ga pa pa" sambutku.
Dari tadi bersin melulu, yakin itu pasti karena udara dingin. Hidungnya kan sensitif kena perubahan udara. Belum lagi matanya merah kayak habis berenang di sungai seharian...
"matanya perih yank" lirihnya.
"matanya kenapa?" tanyaku ga ngerti. waduh, makin merah tuh matanya.
"dah cuci aja matanya dulu" usulku.
mungkin aja ada debu atau kotoran yang nempel. Dengan bergegas si imut ke kamar mandi. Selang lima menit udah keluar lagi dengan tangan dan wajah basahnya.
"masih perih.." lirihnya lagi.
Aku cuma bisa ngeliat matanya. Siapa tau ada debu atau serangga yang nongol tiba-tiba.

Sambil duduk kami makan berdua, mie dingin dengan bakso setengah hangat-hangat kuku. Kalo disini datang deh bagian romantisnya, mulut ni reflek menerima suapan bakso. hmmm....dingin-dingin nikmat...

Waktu berlalu, sigap jemarinya menari diatas keyboard OP. Facebook, si situs jejaring sosial favorit. Sibuk melihat update-an status. Tak lama perbincangan mengarah ke Blog, terus dia minta settingkan blog-nya..weleh ini baru namanya anti-gaptek. Semua teknologi wajib tau. Buka sana, buka sini, woww rupanya Blog nya sering dikunjungi orang ya.
"wah...liat tuh blog De banyak yang ngunjungi" senyumku.
"ada dari Indonesia, Malaysia, Kanada bahkan Amerika" kagum nih jadinya.
Aku ngomongin statistik blog, dia senyum-senyum, makin kelenger liat senyumnya.
"Oh ya fotonya yang di komputer dah di copy?" maksudnya di simpan ke media lain.
Maklum sedikit cemas, besok aku harus berangkat. Nah, pastinya semua dokumen kami kena imbas, kalo ga kena delete yah kena format.
"beli dulu cd satu biji, biar abang burn ke cd aja" usulku.
"berapa harganya satu?" tanyanya.
"seribu gopek"
Segera tuh cd dibeli en dengan asyik ku copy semua foto-foto kami berdua.

"Printkan lamaran De napa" pintanya.
Flashdisk hijau kristal miliknya langsung tertancap di port USB komputer OP. Sedikit editan mengubah nama perusahaan dan tanggal surat lamaran, langsung print, Selesai.

"isss cuek kali dia" celutuknya.
"hmm???" aku ga ngerti maksudnya.
"dia mau pergi pun besok, awak dicuekin" katanya.
Duh, jadi bingung, aku ga ngerasa mencuekin dia. Tapi entahlah, mungkin dianya minta dimanja kali ya. Aku jadi salah tingkah karenanya, ku pandangi lagi matanya. Matanya melihat diriku, tapi ga sampai beberapa detik dia berdiri. Dicabutnya flashdisk, terus berpindah tempat ke kom 18. Berdiam diri, mungkin merajuk atau bete aku tak tau.

Percaya atau ga, aku ga cemas dengan perjalanan besok. Ku anggap hanya perjalanan biasa beberapa hari. Aku ga cemas tentang dia, karena aku yakin semua kan baik-baik saja. Aku percaya Tuhanku kan lindungi dia. Tapi yang pasti, aku juga bukan peramal. Aku tak tau isi hatinya, buktinya aja kok dia bisa bete.

"Bang, oii" ada yang teriak dari luar.
Aii, OP lama di warnet ini. Dia yang mulai besok menggantikan diriku, untuk menjadi pertapa di kursi berpetuah yang ku duduki. Lebih dari setengah jam kami bicarakan masalah persiapan dia, tugas-tugas en masalah anggota lain kalau nanti dia memang diputuskan untuk menggantikan aku. Tak jarang kami tertawa karena bercanda, tak bisa dipungkiri kalau ngomong dengan dia kitapun jadi seperti setengah gila en lupa umur hehehehehe2x.

Sesekali ku tatap wajah si imut. Bete. ya keliatan walau dia duduk menyamping. Saat jam menunjukkan pukul 10 lewat, dia sadar harus pulang ke kosnya. Terus dia bangkit, mendekati mejaku dengan sedikit flu. Matanya masih merah, kali ini aku juga ga bisa menebak. Matanya merah karena iritasi tadi atau karena marah karena merasa di cuekin. Tapi ya sudahlah, aku cuma berprasangka baik aja.

Masih terasa kesalnya dia sewaktu diatas Beat menuju kosnya. Jemarinya yang biasa melingkar di perut buncitku tak terasa. Sewaktu turun, kupandangi wajahnya. Duh, rasanya ingin kubelai dan ingin ku katakan "maaf ya kalo merasa di cuekin" tapi aku tak mau dia benar-benar merasa di cuekin, jadi kata-kata tadi tak terucapkan.
"jam berapa besok lamarannya mau diantar??" tanyaku.
"jam setengah delapan" jawabnya.
Oh, berarti besok pagi-pagi aku harus kembalikan Beat ini padanya. Mudah2an saja besok semua urusan menjadi lancar.

-=
Percayalah, dan biarkan semua berjalan apa adanya tanpa perlu linangan air mata dan kecemasan. Ku tau kesepian kan merayap, percayalah itu cuma sementara. Tak ada niat mendiamkanmu. Mari kita saling berprasangka baik.
=-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar